Aceh (INITOGEL) —Hujan mungkin telah reda, tetapi jejak banjir masih tertinggal jelas di banyak sudut Aceh. Lumpur belum sepenuhnya mengering, rumah-rumah belum semuanya bisa ditempati kembali, dan ratusan keluarga masih menjalani hari di pengungsian. Dalam situasi itulah, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kemarin merespons kondisi darurat tersebut dengan mendorong penyediaan ratusan hunian sementara (huntara) bagi para korban banjir.

Bagi warga terdampak, kabar ini datang seperti napas panjang—bukan solusi akhir, tetapi penanda bahwa suara mereka mulai didengar.

Huntara dan Kebutuhan Mendesak Warga

Di lapangan, kebutuhan paling mendesak bukan lagi sekadar makanan atau pakaian. Banyak warga membutuhkan tempat tinggal yang lebih layak untuk bertahan sambil menunggu proses pemulihan rumah mereka.

Di salah satu lokasi pengungsian, tenda-tenda berdiri rapat. Anak-anak bermain di tanah lembap, sementara orang tua duduk beralas tikar tipis. “Kalau hujan lagi, kami khawatir,” ujar Nurhayati, ibu dua anak yang rumahnya terendam banjir. “Kami butuh tempat yang sedikit lebih aman.”

Huntara diharapkan bisa menjawab kebutuhan ini—memberi ruang yang lebih manusiawi, lebih terlindung, dan memungkinkan keluarga menjalani hari dengan lebih tenang.

Respons DPR: Dorongan dari Pusat

DPR menilai penyediaan ratusan huntara sebagai langkah penting agar korban banjir tidak terlalu lama berada di pengungsian darurat. Respons ini disampaikan sebagai bagian dari fungsi pengawasan dan dukungan terhadap penanganan bencana oleh pemerintah dan lembaga terkait.

“Korban bencana tidak boleh dibiarkan terlalu lama hidup dalam ketidakpastian,” ujar salah satu anggota DPR dalam pernyataannya. Menurutnya, huntara menjadi jembatan antara masa darurat dan pemulihan permanen.

Dorongan tersebut juga menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga agar pembangunan huntara bisa dilakukan cepat, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan lokal.

Lebih dari Sekadar Bangunan Sementara

Bagi warga Aceh, huntara bukan sekadar struktur fisik. Ia adalah ruang jeda—tempat keluarga bisa kembali menjalani rutinitas sederhana: memasak, belajar, beribadah, dan beristirahat tanpa terus-menerus dihantui rasa cemas.

Relawan kemanusiaan menilai hunian sementara yang layak juga berdampak besar pada kondisi psikologis korban. “Ketika orang punya ruang privat, walau sementara, proses pemulihan mental jadi lebih cepat,” ujar seorang relawan di lokasi.

Tantangan di Lapangan

Meski respons DPR disambut positif, tantangan tetap ada. Penentuan lokasi, ketersediaan lahan, bahan bangunan, hingga cuaca menjadi faktor yang harus diperhitungkan. Warga berharap prosesnya tidak berlarut-larut.

“Kami tidak menuntut rumah baru sekarang,” kata seorang warga pengungsian. “Kami hanya ingin tempat tinggal yang aman sambil menunggu keadaan benar-benar pulih.”

Harapan dari Pengungsian

Di Aceh, ingatan kolektif tentang bencana membuat masyarakat akrab dengan kata “bangkit”. Namun bangkit tidak bisa dilakukan sendirian. Dukungan kebijakan, kehadiran negara, dan kerja bersama menjadi kunci.

Respons DPR terkait penyediaan ratusan huntara memberi harapan bahwa pemulihan tidak berhenti di tenda-tenda darurat. Bahwa ada upaya untuk memindahkan warga dari kondisi paling rentan menuju situasi yang lebih manusiawi.

Kemarin, suara dari gedung parlemen mungkin terdengar jauh dari lokasi banjir. Namun bagi warga Aceh, yang terpenting adalah bagaimana suara itu segera berubah menjadi langkah nyata—menjadi dinding, atap, dan ruang aman sementara untuk kembali menata hidup.