Timur Tengah (initogel)— Tahun baru datang tanpa kembang api bagi banyak anak di Timur Tengah. Tidak ada hitung mundur, tidak ada perayaan meriah. Yang terdengar justru suara angin malam di tenda pengungsian, derit pintu bangunan rusak, dan bisik doa orang tua agar esok hari lebih aman dari hari ini.

Bagi anak-anak yang tumbuh di tengah perang, tahun baru bukan tentang resolusi besar. Ia tentang harapan kecil yang sangat manusiawi: tidur tanpa takut, sekolah lagi, dan bermain tanpa harus menoleh ke langit.

Tahun Baru di Tengah Kehilangan

Di sebuah kamp pengungsian, Amina (9 tahun) menggenggam buku tulis yang sudah kusut. Sampulnya sobek, halaman-halamannya penuh coretan. “Aku ingin sekolah lagi,” katanya pelan. Itu harapannya di tahun baru—bukan mainan baru, bukan pakaian baru.

Perang telah merampas banyak hal dari anak-anak seperti Amina: rumah, rutinitas, dan rasa aman. Namun ia belum mampu merampas imajinasi mereka. Di sela puing dan tenda, anak-anak masih menggambar matahari, rumah, dan taman—dunia yang mereka inginkan kembali.

Anak-Anak yang Terpaksa Dewasa

Konflik berkepanjangan membuat banyak anak belajar tentang kehilangan lebih cepat dari seharusnya. Mereka tahu arti antre bantuan, tahu bagaimana berlindung saat suara keras terdengar, dan tahu cara menenangkan adik-adiknya ketika orang dewasa kelelahan.

“Anak-anak ini memikul beban yang bukan milik mereka,” ujar seorang pekerja kemanusiaan. “Tapi mereka tetap menemukan cara untuk tersenyum.”

Senyum itu sering muncul saat mereka bermain—dengan bola dari kain, dengan batu yang disusun jadi permainan, atau dengan cerita-cerita kecil tentang masa depan yang ingin mereka bangun.

Sekolah sebagai Simbol Harapan

Bagi anak-anak terdampak perang, sekolah bukan hanya tempat belajar. Ia adalah simbol normalitas. Di ruang kelas darurat—kadang hanya tenda dengan papan tulis—anak-anak menemukan struktur dan tujuan.

“Kalau ada sekolah, rasanya hidup lebih teratur,” kata Omar (11 tahun). Ia bercita-cita menjadi dokter. “Supaya bisa menolong orang yang terluka.”

Cita-cita itu tumbuh bukan karena dunia yang mudah, tetapi karena dunia yang keras—dan keinginan untuk mengubahnya.

Orang Tua, Doa, dan Tahun Baru

Bagi para orang tua, tahun baru adalah momen sunyi untuk berharap diam-diam. Mereka tahu janji besar sulit ditepati di tengah konflik. Maka mereka berdoa untuk hal-hal sederhana: makanan cukup, kesehatan anak-anak, dan satu hari tanpa ketakutan.

“Kami tidak minta banyak,” ujar seorang ibu. “Kami hanya ingin anak-anak kami aman.”

Doa-doa itu menjadi jangkar—menahan keluarga tetap berdiri ketika ketidakpastian terasa tak berujung.

Harapan Kecil yang Bertahan

Harapan anak-anak terdampak perang tidak selalu keras atau lantang. Ia sering hadir sebagai bisikan: ingin tidur nyenyak, ingin belajar, ingin bermain. Harapan-harapan kecil itu justru yang paling kuat, karena ia terus bertahan meski dunia di sekelilingnya runtuh.

Tahun baru mungkin datang tanpa pesta, tetapi harapan tidak pernah benar-benar pergi. Ia berpindah tempat—dari rumah ke tenda, dari kelas ke papan tulis darurat—namun tetap hidup di hati anak-anak.

(Bersambung ke Bagian 2: “Belajar, Bermain, dan Bertahan: Cara Anak Menyusun Harapan”)