Teheran, 14 Januari 2026 (delapantoto login) — Suasana di sepanjang jalan sempit Teheran sejak beberapa hari terakhir tak lagi sebatas riuh demonstrasi. Di balik keramaian itu, ada bisik-bisik kekhawatiran tentang masa depan perdagangan, ekonomi rumah tangga, dan stabilitas sosial yang merembes ke hati keluarga, petani, pedagang kecil, sampai pelajar yang baru pulang sekolah.
Keprihatinan ini muncul setelah Washington mengumumkan kebijakan tarif baru yang mengejutkan: negara mana pun yang masih berbisnis dengan Iran akan dikenai bea masuk 25 persen atas semua barang mereka ketika memasuki pasar Amerika Serikat. Kebijakan ini diumumkan secara sepihak oleh Presiden AS melalui unggahan di media sosial, tanpa rincian formal dari Gedung Putih.
Langkah tersebut digambarkan oleh para pemimpin AS sebagai alat tekanan untuk mengubah kebijakan Republik Islam Iran di tengah protes besar yang mengguncang negeri itu. Tetapi dari sudut pandang Teheran, kebijakan itu tidak sekadar angka di kertas tarif — tetapi ancaman yang bisa mengubah arus perdagangan global dan mengguncang masyarakat biasa yang sudah bergulat dengan kesulitan ekonomi.
Dampak Ekonomi yang Melampaui Statistik
Bayangkan seorang eksportir kecil di India yang selama ini menjual beras basmati ke Iran. Data terbaru menunjukkan ekspor ini hampir terhenti bukan hanya karena risiko tarif yang tinggi, tetapi juga karena gejolak ekonomi di Iran sendiri, yang membuat pembeli takut untuk memesan dan tidak bisa memastikan pembayaran.
Seorang pengusaha kecil di kota pelabuhan mengakui kepada kerabatnya: “Jika harga produk kami harus kompetitif di pasar internasional, tarif 25 persen itu seperti batu besar yang menutup pintu kesempatan kami.” Di sisi lain, analis perdagangan memperkirakan kebijakan semacam ini bisa memaksa negara-negara besar seperti China, Turki, dan India untuk mengatur ulang strategi perdagangan mereka, bahkan jika itu berarti menyusuri jalur baru yang lebih mahal dan berisiko.
Di banyak pasar di Asia dan Timur Tengah, harga barang impor mulai bergerak tidak stabil. Sementara itu, harga minyak melonjak karena kekhawatiran investor bahwa eskalasi kebijakan tarif dapat mempengaruhi jalur pasokan energi global — sebuah pukulan tidak hanya bagi ekonomi dunia, tetapi juga bagi keluarga yang sudah bergulat dengan inflasi dan biaya hidup tinggi.
Selain Ekonomi: Keamanan Publik dan Hukum Internasional
Dalam konteks hukum, aturan tarif ini juga menimbulkan pertanyaan besar di komunitas hukum internasional. Apakah seorang presiden dapat secara sepihak memberlakukan tarif terhadap semua negara mitra dagang Iran? Apa dasar hukum internasional yang menjadi rujukan? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menggantung di udara dan menjadi bahan diskusi di ruang-ruang akademik dan diplomatik di seluruh dunia.
Masih banyak pakar yang menyoroti risiko bahwa tindakan sepihak semacam itu bisa memperumit aturan perdagangan global yang sudah rapuh setelah pandemi dan tekanan geopolitik lainnya. Secara sekaligus, kebijakan ini dapat memperparah fragmentasi hubungan ekonomi yang selama ini dibangun dengan susah payah melalui kerjasama multilateral.
Namun di jalanan Tehran, diskusi hukum internasional bukanlah sesuatu yang sering didengar di warung kopi. Bagi ibu rumah tangga yang mengatur belanja mingguan, atau supir taksi yang menggantungkan hidupnya pada permintaan pelanggan, efeknya terasa langsung — harga kebutuhan pokok lebih tinggi, biaya hidup yang semakin menekan, harapan akan stabilitas semakin tipis.
Kemanusiaan yang Kadang Terlewatkan
Di tengah sorotan global terhadap angka dan kebijakan, ada sisi kemanusiaan yang sering terabaikan. Seorang guru sekolah menengah di Teheran bercerita tentang murid-muridnya yang semakin gelisah. Mereka melihat orang tua mereka pulang dengan wajah letih, terkadang tanpa berita baik tentang pekerjaan atau prospek masa depan. Ada murid yang baru 15 tahun, bercita-cita kuliah di luar negeri, yang berkata lirih:
“Aku takut jika semua peluang dunia hanya berhenti karena keputusan orang-orang yang jauh dari rumah kami.”
Itu adalah suara kecil tetapi penuh makna — suara yang tak disebutkan dalam statistik perdagangan, namun merasakan langsung dampak dari kebijakan besar yang dibuat di kepala pemerintahan lain.
Itu adalah bentuk nyata dari dampak kebijakan internasional terhadap kehidupan manusia, ketika hukum, ekonomi, dan keamanan publik bertemu dan kemudian terasa langsung oleh jutaan orang.
Apa Selanjutnya?
Negara-negara mitra dagang Iran kini berada di persimpangan pilihan: mencoba mematuhi ancaman tarif, mencari jalur alternatif dagang, atau mempertahankan hubungan yang berpotensi tinggi risikonya. Ada yang berusaha bersikap tenang, seperti Indonesia, yang menyatakan dampak langsung terhadap perdagangan mereka dinilai kecil karena volume perdagangan yang terbatas.
Namun situasinya tetap berubah cepat. Di latar belakang semua diskusi dan peringatan, jutaan rakyat biasa — dari pedagang kecil, pekerja pabrik, hingga pelajar — menunggu, dengan harapan bahwa kepentingan ekonomi global, hukum internasional, dan kebutuhan kemanusiaan tidak dilupakan dalam percaturan besar kekuatan politik dunia.
