Jakarta — Ketika banjir datang, dampaknya tak berhenti di rumah yang terendam. Ia merambat ke pasar—ke timbangan beras, harga cabai, dan telur di meja pedagang. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai subsidi distribusi menjadi kunci untuk meredam lonjakan harga pangan akibat banjir, terutama saat jalur logistik terganggu dan pasokan tersendat.

Bagi keluarga berpendapatan pas-pasan, stabilitas harga bukan isu teknis. Ia adalah rasa aman di dapur.


Mengapa Distribusi Menjadi Titik Rawan

Banjir sering memutus jalan, merusak gudang, dan memperlambat pengiriman dari sentra produksi ke pasar. Akibatnya, biaya angkut melonjak dan pasokan menyusut sementara permintaan tetap. Tanpa intervensi, biaya tambahan itu cepat berpindah ke konsumen.

Indef menekankan bahwa masalahnya bukan semata produksi, melainkan biaya dan kecepatan distribusi saat krisis.


Subsidi Distribusi sebagai Peredam

Subsidi distribusi—misalnya untuk ongkos angkut, penyeberangan, atau logistik darurat—membantu:

  • menjaga arus barang tetap bergerak meski rute memutar,

  • menahan kenaikan biaya di tingkat pedagang,

  • dan mencegah panic buying akibat kelangkaan sementara.

Dengan kata lain, subsidi ini berfungsi sebagai peredam kejut agar harga tidak melonjak tajam ketika alam menguji.


Keamanan Pangan = Keamanan Publik

Harga pangan yang melonjak cepat berisiko memicu keresahan sosial. Karena itu, Indef memandang subsidi distribusi sebagai bagian dari keamanan publik—melindungi daya beli dan menjaga ketertiban. Intervensi yang tepat waktu lebih efektif (dan lebih murah) dibanding pemulihan setelah harga telanjur tinggi.

Kuncinya ada pada respon cepat dan tepat sasaran.


Dimensi Kemanusiaan: Siapa yang Paling Terdampak

Kelompok rentan—pekerja harian, lansia, keluarga dengan anak—paling cepat merasakan dampak. Kenaikan kecil di harga telur atau beras berarti pengurangan porsi atau pilihan gizi yang dikorbankan. Subsidi distribusi membantu memastikan krisis alam tidak berubah menjadi krisis gizi.

Seorang pedagang pasar berkata, “Kalau ongkos angkut naik, harga ikut naik.” Kalimat sederhana yang menjelaskan rantai sebab-akibat.


Perlu Data dan Koordinasi

Indef menekankan pentingnya pemetaan jalur rawan banjir, stok penyangga di dekat konsumen, serta koordinasi pusat–daerah–pelaku logistik. Subsidi harus fleksibel—aktif saat darurat, dievaluasi berkala, dan dihentikan saat kondisi pulih.

Transparansi juga krusial agar bantuan tidak bocor dan benar-benar menahan harga.


Melengkapi, Bukan Menggantikan

Subsidi distribusi bukan solusi tunggal. Ia perlu dilengkapi dengan:

  • manajemen stok penyangga,

  • pembukaan jalur alternatif,

  • dan komunikasi publik yang menenangkan.

Namun di saat banjir, subsidi distribusi adalah tuas tercepat yang bisa ditarik.


Penutup

Penilaian Indef menegaskan satu pelajaran: saat banjir memutus jalan, kebijakan harus membuka jalan. Subsidi distribusi yang cepat dan tepat sasaran menjaga harga tetap terjangkau—melindungi bukan hanya pasar, tetapi martabat hidup warga.