delapantoto – Api tiba-tiba membelah pagi di kawasan pesisir Jakarta Utara. Kepulan asap hitam membumbung dari sebuah kapal nelayan yang tengah bersandar, memicu kepanikan di antara para nelayan dan warga sekitar pelabuhan. Dalam hitungan menit, si jago merah melalap bagian badan kapal, memaksa pemilik dan awaknya bergegas menyelamatkan diri dengan perasaan campur aduk antara syok dan pasrah.

Peristiwa kebakaran kapal nelayan ini diduga kuat dipicu oleh arus listrik. Dugaan awal mengarah pada korsleting instalasi kelistrikan di dalam kapal—masalah yang kerap dianggap sepele, namun berisiko besar, terutama pada kapal-kapal kayu dengan peralatan listrik sederhana dan perawatan terbatas.

Detik-Detik Mencekam di Dermaga

Menurut penuturan nelayan setempat, api pertama kali terlihat dari bagian dalam kapal saat aktivitas pagi baru saja dimulai. Beberapa nelayan yang berada di dermaga mendengar letupan kecil sebelum asap tebal muncul. Upaya pemadaman awal dilakukan secara manual, namun api cepat membesar karena material kapal yang mudah terbakar dan hembusan angin laut.

Petugas pemadam kebakaran tiba tak lama kemudian. Dengan dukungan peralatan pemadam dan suplai air dari laut, api berhasil dikendalikan agar tidak merembet ke kapal lain yang bersandar berdekatan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Seluruh awak kapal berhasil menyelamatkan diri, meski sebagian mengalami trauma akibat kepanikan mendadak.

Dugaan Korsleting dan Ancaman Keselamatan

Dugaan penyebab kebakaran mengarah pada korsleting listrik, kemungkinan berasal dari kabel yang aus, sambungan tidak standar, atau penggunaan peralatan listrik yang tidak sesuai spesifikasi kapal. Di lingkungan pelabuhan nelayan, penggunaan listrik sering kali bersifat darurat—mengandalkan kabel tambahan untuk penerangan, pendingin, atau alat komunikasi—yang jika tidak diawasi ketat dapat memicu bahaya serius.

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya standar keselamatan di sektor perikanan rakyat. Banyak nelayan kecil beroperasi dengan keterbatasan modal, sehingga aspek keselamatan kerap berada di urutan belakang dibanding kebutuhan melaut dan mencari nafkah harian.

Kerugian Materiil dan Beban Psikologis

Meski tak menelan korban jiwa, kebakaran ini meninggalkan kerugian materiil yang tidak kecil. Kapal yang terbakar merupakan aset utama bagi nelayan—sumber penghidupan bagi keluarga mereka. Kerusakan kapal berarti terhentinya aktivitas melaut, hilangnya pendapatan, dan bertambahnya beban ekonomi yang sudah berat.

Lebih dari itu, ada dampak psikologis yang jarang terlihat. Rasa aman di pelabuhan, yang selama ini dianggap tempat paling “tenang” sebelum dan sesudah melaut, ikut terguncang. Para nelayan kini dihadapkan pada kecemasan baru: apakah kapal mereka aman dari risiko serupa?

Pelajaran Keselamatan dan Tanggung Jawab Bersama

Kejadian di Jakarta Utara ini menjadi pengingat bahwa keselamatan publik di wilayah pesisir membutuhkan perhatian serius. Pemeriksaan rutin instalasi listrik kapal, edukasi keselamatan kebakaran, serta dukungan peralatan pemadam sederhana di dermaga dapat menjadi langkah awal pencegahan.

Bagi para nelayan, keselamatan bukan sekadar prosedur, melainkan perlindungan atas hak hidup dan mata pencaharian. Sementara bagi negara dan pemangku kepentingan, memastikan keamanan di pelabuhan rakyat adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan—menjaga mereka yang setiap hari menggantungkan hidup pada laut.

Api memang telah padam, namun pesan dari peristiwa ini masih menyala: satu kabel yang terabaikan bisa menghanguskan harapan. Keselamatan harus menjadi prioritas bersama, agar pelabuhan tetap menjadi ruang pulang yang aman bagi para nelayan.